Tanah Runcuk yang Retak

REVIEW / NURCHOLIS / dimuat dalam SKRIPTA, diterbitkan oleh SOAP (Study on Art Practice), volume 02 / semester I / 2015

8 November 2014, Kedai Kebun riuh. Malam itu adalah pembukaan pameran bertajuk “Memoar Tanak Runcuk: Catatan dari Tanah yang ‘Hilang’”. Ruangan galeri masih tertutup dan gelap, dijaga ramah oleh seorang petugas penerima tamu. Sementara itu, pengunjung pameran digiring masuk menuju aula di lantai 2 oleh petugas yang lain. Pengunjung yang tak mendapat kursi di dalam aula terpaksa berdiri di luar, sedangkan yang telah terlanjur duduk di dalam tampak gelisah dan gerah. Prosesi pembukaan pameran etnografi yang diselenggarakan oleh Center for Tanah Runcuk Studies (CTRS) dimulai sedikit terlambat. Hingga beberapa waktu kemudian, seorang pembawa acara maju dan membawa pengunjung ke dalam sebuah seremonial pembukaan pameran.

Seorang pria paruh baya berambut gondrong dan necis kemudian menyusul maju, memperkenalkan diri sebagai wakil dari CTRS, sebuah lembaga yang dibuat khusus untuk melakukan kajian komprehensif atas Tanah Runcuk. Dalam pidato sambutannya, wakil direktur CTRS mengklaim Tanah Runcuk sebagai sebuah teritorial yang “hilang” dalam ingatan kolektif Indonesia. Setelah serangkaian sambutan dan pidato yang bertele-tele, pentas musik disajikan kemudian. Masing-masing penampil hanya membawakan satu lagu saja, terasa dingin dan berjarak. Selanjutnya seremonial resmi ini disusul dengan peluncuran Jurnal Malalongke, pemberian plakat kenang-kenangan dari pihak CTRS kepada Kedai Kebun, prosesi pembacaan doa, pemotongan tumpeng, hingga pemukulan gong yang menasbihkan dimulainya pameran.

Dalam ketegangan itu penonton kemudian berduyun-duyun turun. Pengunjung berdesak-desakan menunggu giliran, sementara wakil direktur CTRS melenggang di dalam galeri ditemani Agung Kurniawan, sang direktur galeri, dan seorang petugas khusus. Keseluruh prosesi rupanya merupakan intervensi yang telah disiapkan Timoteus Anggawan Kusno (Angga) dalam menghantarkan karya “Memoar Tanah Runcuk”—yang dibungkusnya dalam sebuah institusi rekaan bernama CTRS. Tak berhenti di situ, Angga telah memperangkati fiksi pameran ini lengkap dengan kuratorial museum yang ditulis oleh seorang “antropolog senior” berkebangsaan Jerman—yang dikisahkan sebagai tempat ditemukannya dokumen “peninggalan” Tanah Runcuk.

Sembari menunggu ruang pamer lebih longgar untuk masuk dan menikmati karya Angga, saya membuka-buka Jurnal Malalongke. Jurnal Malalongke sebagai rangkaian dalam proyek seni ini disusun Angga bersama sejumlah rekannya yang merupakan peneliti dan akademisi. Jurnal yang disusun dengan pendekatan akademis ini menjadi perangkat legitimasi ilmiah atas keberadaan Tanah Runcuk. Jurnal ini berisi sejumlah kajian dan telaah mutakhir atas catatan etnografis Stern & Wallach pada periode akhir abad 19. Secara panjang lebar, apa yang disebut sebagai Tanah Runcuk dibedah dengan “ilmiah”. Terbatasnya kesempatan, dari segi waktu atau tempat, membuat sulit memulai pembacaan kritis terhadapnya.  Bahwa terdapat penelitian yang mendalam mengenai tanah rundjuq-lah yang menurut saya lebih banyak ditangkap oleh kepala pembaca jurnal saat itu. Di dalam ruang pamer, medium literer kembali digunakan oleh Angga dalam menjelaskan Tanah Runcuk. Kalimat-kalimat yang digunakan disusun dengan baik, tata baca tepat, seperti ada editor bahasa yang terlibat di sana.

Selain medium teks, Angga menyusun narasi Tanah Runcuk melalui peta, sketsa dan lukisan, kliping, dan benda-benda yang lazim dalam penemuan arkeologi. Di salah satu kertas yang digantung, misalnya, disusun panel-panel yang di dalamnya digambari flora dan fauna yang ada di Tanah Runcuk. Di dalam panel itu terdapat gambar binatang yang mengingatkan saya pada monster hasil radiasi di kartun televisi, sekaligus pula pada representasi “tanah asing” yang hadir sebagai dokumen etnografis pelayaran Eropa sebelum semangat rasionalitas menggerakkan mereka. Gambar-gambar yang tertoreh dalam kertas lapuk dan usang itu mengilustrasikan binatang hampir serupa babi rusa, tanaman bunga bangkai dengan gigi-gigi tajam pada kelopaknya, ada pula pohon kelapa yang menunjukan ciri tropis Tanah Runcuk. Fauna berupa kuda yang kepalanya membentuk corong tampak dominan, selain patung, terdapat foto, dan sketsa yang menggambarkan anatomi sang kuda. Mustahil bagi kita untuk menemukan keberadaan binatang semacam itu dalam dunia yang kita kenal. Selain itu ada koper kayu dengan kertas usang bergambar peta, alih-alih sebuah tulisan, seolah ingin menyatakan bahwa dalam koper perjalanan itulah catatan tentang Tanah Runcuk dikumpulkan. Bentuk tempat tinggal Orang Runcuk dengan detail teknologinya tidak lupa ikut digambarkan, pun artefak-artefak peralatan hidup sehari-hari ikut dihadirkan.

Kecermatan Angga dalam menyusun kalimat-kalimat menunjukan bagaimana pameran ini disusun dengan tingkat kecermatan yang mengagumkan. Kecermatan penting untuk dihadirkan di sini karena dengan cara itulah Angga memproduksi narasi dengan penojolan dan pangabaian-pengabaian (sejarah) yang disengaja. Angga secara sadar menempatkan tanda petik pada kata-kata yang merujuk pada keaslian/ fakta. Dalam salah satu paparan terdapat kata yang ditulis  “‘yang hilang’” (sic!), satu cara yang seketika mengajak kita untuk meragukan apa yang dikatakan hilang itu. Pengabaian terlihat juga dari artefak-artefak yang dihadirkan secara anakronik. Yang terasa kurang menonjol adalah nama-nama tempat, gunung, sungai, mitos, dan lainnya yang masih terasa diciptakan oleh orang Nusantara. Nama-nama tempat belum dinamai menurut cara Stern jr. dan Wallach yang orang Eropa, biasanya nama-nama asli akan diganti atau mengalami pengubahan di dalam catatan-catatan para orientalis itu.

Kerja keras Angga dalam menyusun narasi mampu menggerakan pengunjung untuk bertanya lebih lanjut. Komentar umum yang banyak terdengar dari pengunjung pameran itu ialah dimanakah Tanah Runcuk itu? Banyak pengunjung pameran yang segera mencari informasi di dunia maya, mengetik Tanah Runcuk di mesin pencari google, dan tidak menemukan bukti keberadaan wilayah itu, selain sebuah halaman wikipedia yang (lagi-lagi) mengutip Center for Tanah Runcuk Studies dalam penjelasannya. Tindakan semacam itu tidak keliru. Kita bisa menemukan paralelitasnya ketika sebuah novel mengolah sumber-sumber sejarah, menyelewengkan fakta, mendistorsinya, atau memasukkan fakta-fakta palsu, dan di antara kita yang ragu masih juga berusaha mencari kebenaran cerita itu.

Mitos yang menggugat

Sebuah kisah yang di dalamnya disisipkan pengabaian dan penyusupan fakta dengan tujuan menciptakan mitos mengenai sebuah wilayah bernama Runcuk tidak berhenti pada teka-teki. Saya membayangkan Angga seperti Umberto Eco ketika menulis novel berjudul Boudolino. Tokoh utamanya, Boudolino, mencuri perkamen-perkamen dari gereja, menghapus tulisan-tulisan di atasnya (sebagian bersih, dan sebagian tidak), dan kemudian menulis kisahnya sendiri. Jika Boudolino  adalah Stern Jr., perkamen-perkamen curian itu adalah tradisi sejarah beserta aparatusnya. Sementara Umberto Eco mencoba mengkritisi sejarah kekristenan di Eropa, Angga sedang mencoba mengkritisi penciptaan sejarah nusantara.

Medium seni rupa menciptakan kelemahan dan keunggulannya sendiri. Di satu sisi pameran ini, meski disertai Jurnal, tidak bisa memberikan penjelasan secara literer yang lebih memanjakan pengunjung. Tetapi, dari situlah banyak sekali ruang yang menyediakan para pengunjung pameran untuk memasukkan pengalamannya sendiri. Saya sendiri ketika melihat pameran ini teringat bagaimana kontroversi penggalian situs Liang Bua di Nusa Tenggara Timur. Adakah kontroversi antara mitos penemuan homo floroensis itu terkait dengan pembayangan sebuah kerangka tua sebagai fosil dan mampu memecahkan teka-teki rantai evolusi? Sementara teka-teki itu belum menemui titik temu, menunggu bukti-bukti yang lebih kuat, terdapat pihak-pihak yang mendapatkan keuntungan dengan mendukung salah satu mitos, dan kita dibiarkan untuk terus bertanya-tanya.

Advertisements